Naskah Monolog Ya, Rob

PANGGUNG DIBUKA DENGAN SUASANA TEMARAM. TERDENGAR TEMBANG JAWA YANG SAMAR DAN SYAHDU. SEMAR, SEORANG TUA DITEMANI LAMPU TEPLOK, MENYIBAK AIR ROB. IA NAIK SAMPAN BERBAHAN SIGARAN TONG BEKAS. BERCERITA TENTANG TANAHNYA DI MASA LAMPAU.

ADEGAN 1: BUDAYA TENGGELAM

Hampir setiap hari aku berada di sini. (TOLAH-TOLEH). Ya, sendiri.

Bukan hanya kesepian yang membuatku sedih. Melainkan perasaan terasing dari tanah kelahiran anak-anakku. Tempat ari-ari mereka dikubur.

Ya, dikubur bersama jarum, bunga, buku tulis lengkap dengan pensil, di atasnya lampu sentir menyala.Biar sang jabang bayi padang dalane, pinter budine, biar dijaga hidupnya. Kakang kawah, adi ari-ari.

Aku masih ingat betul di mana letak ari-ari itu dulu dikubur. Tepat di bawah sini.

Dulu ini emper rumah. Tempat di mana bau amis ikan asin selalu ikut terseret sampai sini, saat angin laut membawa pulang para nelayan dari menyang. Di situ pelataran yang biasa aku pakai meme gabah. Saat aku masih menjadi petani. Saat aku masih ngugemi pranata mangsa, saat bau ampo masih menjadi tanda awal musim hujan, saat kehidupan masih berjalan normal.

JEDA. MENGHELA NAPAS PANJANG.

Tapi sekarang semuanya telah lenyap. Air rob dari laut datang dengan beringas! Menjajah, merampas, dan menghapus apa saja yang pernah kami kumpulkan.

He’eh… [1] Semuanya disapu bersih! Tak ada lagi anak-anak bermain bola, tak ada sedekah bumi, upacara bendera, bahkan makam leluhur pun hilang. Dan yang paling tragis, tak ada lagi tempat pulang bagi anak-anakku, tetanggaku. Lek Rahmat, Mbah Mul, Basio, Sulastri, Parjo yang tiap pagi angon bebeknya di sawah, Kang Legiman… Ah! Betapa pedihnya mengenang nama-nama itu. Nama yang ikut tenggelam bersama Sriwulan, Bedono, Timbulsloko.

MENYEKA KENINGNYA.

Jujur, sebagai pamong sebenarnya aku juga tidak tinggal diam. Aku pernah mencoba melawannya! Mengusir kedatangan air rob yang saat itu dikirim dari Marina dan pelabuhan Tanjung Mas. Aku  mengerahkan semua yang aku punya. Orang-orang aku ajak berjuang! Kami pancang ratusan bambu, kami susun puluhan karung pasir tiap malam, menantang ombak, menahan laju air yang merayap naik.

Tapi ternyata, di saat kami lengah, tanah kami kembali dikepung. Bukan oleh air laut, namun kompeni berseragam dinas yang datang menyelinap! Bukan membawa senapan, melainkan membawa proyek! Celakanya orang-orang yang dulu bersamaku berjuang, perlahan mulai membelot. Mereka berbondong-bondong nyengkuyung proyek dari pejabat berseragam dinas itu!

ADEGAN 2: PROYEK TAMBAK U(D)ANG

Semua pembelotan ini bermula di tahun 1980-an, saat negara datang membawa program petaka bernama INTAM.[2] Mereka menyisir wilayah pesisir di sebelas provinsi.

“Saudara-saudara sekalian! Demi menyuksesken pembangunan nasional dan meningkatken kesejahteraan rakyat dalam rangka menyongsong era modernisasi, pemerintah mencanangken program intensifikasi tambak udang nasional! Dunia internasional kini sedang melirik potensi komoditas ekspor unggulan kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama lipatgandaken produksi udang nasional, perluas lahan tambak yang produktif, dengan semangat gotong royong dan persatuan.”

Mendengar itu, kami yang bodoh dan lelah miskin ini pun langsung bersorak kegirangan: “Ini kesempatan emas! Dunia lagi butuh banyak udang, sementara kami butuh banyak uang!”

Seketika, semua orang kalap. He’eh… Bahkan ketiga anak lelakiku, Gareng, Petruk, dan Bagong, yang biasanya jenaka, tiba-tiba ikut silau dan murka! Mereka merengek, mendesakku tanpa ampun. Mereka berteriak, meminta sawah peninggalan leluhur disulap menjadi tambak udang. “Harga padi selalu nyungsep, Pak! Kami bosen miskin! Kami pingin makan keju, butuh banyak dokat, pengen jadi borju!”

Perputaran uang tunai yang cepat membuat warga pesisir berburu lahan baru. Mereka berencana membabat habis pohon bakau, memperluas tambak hingga mepet garis pantai.

Kembali aku pasang badan! Aku berdiri menghadang barisan orang-orang yang sudah siap dengan gergaji dan kapak-kapak mereka! Termasuk ketiga anakku di dalamnya.

Aku berteriak di depan mereka: “Jangan kalian lipat sawah-sawahmu, Le! Jangan kalian babat bakau-bakau itu, Ngger! Ingat pitutur leluhur kita sapa nandur bakal ngunduh!”

Gareng, Petruk, dan Bagong, mbalelo. Mereka bersama orang-orang dengan beringas tetap menghabisi hutan bakau. Ribuan hektar tanah sawah dikeruk sampai dalam. Lapisan bumi ditelanjangi, dihancurkan demi memuaskan nafsu duniawi yang fana ini.

Satu hingga lima tahun uang dolar mengalir deras di kantong mereka. Anak-anakku memakai baju bermerek, pamer hobi baru dan sok belagu. Aku hanya bisa diam dalam do’a yang cemas. Sebab aku tahu, keserakahan manusia selalu ada batas waktunya. Dan alam punya cara sendiri untuk menyelesaikannya.

Sungguh benar, pitutur leluhur itu menjawabnya. Hanya selang beberapa tahun, keadaan mulai berbalik. Alam datang menagih utangnya tanpa ampun. Air laut melenggang, merayap masuk, menghantam dan menenggelamkan tambak-tambak udang dengan sadis. Harga udang mulai menangis. Isi kantong mereka menipis. Mereka mulai panik, berteriak. Sebagian lagi meratap sedih.

Dan di tengah kepanikan itu, Gareng, Petruk, dan Bagong nampak memendam kegetiran yang dalam. Sedalam tambaknya dulu dikeruk. “Pak… tulung, Pak! Tambaknya kerem! Udang-udang kita keli semua ke laut!” ratap Gareng dengan suara gemetar. “Duit kita mampet, sementara cicilan kita masih numpuk, Pak…” timpal Petruk sambil mengusap air matanya yang bercampur air asin. Sementara Bagong, anak ragil yang biasanya paling lantang itu hanya terkulai lemah, bersandar di kakiku.

Aku menatap mereka. Ingin rasanya aku melehke: “Bapak bilang juga apa?” Tapi melihat wajah-wajah pucat dan penuh kekecewaan itu, kekesalanku angslep menjelma rasa iba yang teramat perih. Aku hanya bisa mengelus rambut mereka satu per satu dalam diam.

ADEGAN 3: KUBANGAN INDUSTRI

Belum sampai kering air mata di tambak mereka, luka di kantong saku kembali diendus oleh kompeni berseragam dinas itu! Mereka datang lagi, menyelinap di antara tambak-tambak yang hancur. Kali ini, bukan lagi program globalisasi, apalagi ilusi. Mereka membawa proyek baru yang lebih mentereng, namanya Kota Industri Modern!

“Ini solusi! Ini lapangan kerja baru bagi warga desa yang gagal jadi petani udang!”

Anak-anakku dan orang-orang itu, kembali bersorak. Mereka gemregah. Bagong yang terkulai lemah di kakiku langsung njengat mendengar pidato itu.

Dan babak penjajahan baru pun dimulai!

Tanpa banyak prolog, sawah kami yang tersisa langsung dipagari seng. Pohon-pohon ditebang, diganti bangunan beton. Cerobong asap dipaksa tegak berdiri ke atas, dan pipa besi menancap tajam ke bawah, menusuk jantung bumi. Entah bagaimana prosenya, status lahannya, kajian AMDAL-nya, izin usahanya, dan tahapan-tahapan seabrek lainnya. Yang jelas, semua berkas itu tiba-tiba muncul seperti siluman. Singkatnya, pabrik-pabrik itu berdiri cepat di atas tanah kami yang lelah. Mirip seperti cerita Bandung Bondowoso.

Ya, Bandung Bondowoso versi modern! Bedanya, yang ini dibantu pasukan jin berseragam dinas dan berkalung stempel sakti!

Melihat kegilaan itu, aku benar-benar geram! Jiwa Semar di dalam dadaku berontak! Aku berlari ke tengah, tepat berdiri di depan mereka sambil berteriak.

“He’eh… Mandek, Le! Mandek kabeh!! Siapa yang memberi kalian hak untuk melubangi bumi ini?! Kalian selalu datang dengan mulut penuh janji! Dulu kalian bilang proyek tambak udang akan membawa kemakmuran, tapi yang terjadi hanya kehancuran! Sekarang, kalian datang lagi dengan lapangan kerja! Tapi lihat apa yang kalian lakukan! Sawah-sawah kami kalian tanami tiang-tiang beton! Kalian tancapkan pipa besi, menyedot habis air tanah kami! Bumi di bawah kaki kami akan bocor! Tanah kami akan ambles sampai belasan sentimeter setiap tahun!”

Aku benar-benar marah. Bukan untuk melawan pembangunan, tapi melawan keserakahan yang kebablasan!

Tapi apa dayaku. Di hadapan keajaiban proyek Bandung Bondowoso itu, suara Semar yang tua ini hanya dianggap seperti radio rusak. Aku diseret menjauh, dituduh sebagai kakek-kakek kuno yang anti-kemajuan!

ADEGAN 4: GAJI ILUSI

Belum selesai aku memprotes pembangunan pabrik itu, ada momen yang membuat hatiku semakin tersayat. Aku menyaksikan orang-orang tua mengantarkan masa depan anak-anaknya ke pabrik itu! Mereka antri di depan gerbang neraka itu demi gaji UMR tiap bulan dan seragam necis.

Mereka pikir gaji bulanan itu bisa menjamin hidup lebih layak. Mereka tidak sadar, mereka sedang masuk ke dalam kubangan yang mbundet, yang mbulet!

Gaji UMR itu tidak pernah cukup untuk membayar kamar BPJS kelas 1. Apalagi yang hobi beli es moni sambil nyanyi. Paling gaji itu cuma cukup dibelikan seblak. Lalu sisanya untuk beli puluhan truk tanah urukan! Membeli ratusan sak semen, pasir, dan batu bata. Meninggikan lantai rumah yang ambles. Mengangkat atap yang saben hari bikin otak di kepala kejedug.

Itulah potret paling konyol dari cerita yang ruwet ini. Dan tragisnya, pemerintah justru mencatat ini sebagai angka keberhasilan peningkatkan kesejahteraan. Juh! Padahal ini adalah perbudakan sistematis yang sengaja diciptakan negara untuk kelanggengan industri!

Setelah sekian tahun pabrik-pabrik itu berdiri, tanah kami semakin ambles lebih dalam. Air rob semakin ganas dan mulai meluber ke mana-mana menjadi perang pendapat, perang curiga, dan perang saudara. Ia menjadi kubangan konflik yang mengerikan.

Pada suatu siang yang terik, ketika bau rob menguap amis, kelompok ibu-ibu di kampungku mengamuk! Didampingi LSM, mereka menuding pabrik-pabrik itu sebagai biang kerok kehancuran hidup mereka! Mereka meneriakkan protes sambil menabuhi wajannya menggunakan spatula.

“Lihat ke sini! Buka mata kalian! Tanah kami ambles belasan sentimeter setiap tahun! Kompor kami mati! Kasur kami basah! Anak-anak kami gatal-gatal dan batuk karena pebrik kalian. Desa kami tenggelam karena kerakusan industri kalian! Kami ingin hak hidup kami kembali!”

Sementara kelompok yang lain, anak-anak kami! Para buruh pabrik yang takut dipecat. Mereka justru berdiri membentengi pabrik, di atas motor-motor matic-nya, anak-anak kami membela nasib dan tempat kerjanya.  

“Biar bumi ini mrembes, biar tanah ini ambles, yang penting kami bisa nyicil motor! Kalau kalian terus memprotes pabrik kami, siapa yang akan bertanggungjawab kalau kami dipecat? Jangan korbankan pekerjaan kami! Tanpa pabrik-pabrik ini, kita mau makan apa?”

Pro dan kontra berlangsung sangat lama. Makin lama makin panas. Hampir memicu bentrok fisik antara ibu dan anak. Lantas kompeni berseragam itu kembali hadir. Mereka mencoba mendamaikan kami dengan bermacam-macam dalih. Intinya, bencana ini terjadi karena perubahan iklim global, fenomena alam, bukan salah siapa-siapa! “Ini karena alam!” katanya. Tapi siang yang panas itu semakin membakar amarah semua orang.

Dengan siasat yang luar biasa cerdik, pemerintah tahu persis cara menjinakkan orang kecil yang sedang mengamuk. Ketika mulut dinas dan barikade aparat tak mampu menahan gelombang konflik ibu dan anak itu, mereka langsung menurunkan bala bantuan dari langit, yang dengan cepat mengelus-elus kepala, agar lidah ibu dan anak itu tidak terus menjulur liar.

“Saudara-saudaraku yang dirahmati. Sabar. Nerimo ing pandum. Ini semua adalah ujian keimanan! Jangan sekali-kali kalian menuduh pabrik-pabrik itu, jangan menyalahkan pemerintah. Ini semua adalah tanda-tanda kebesaran Pangeran! Makin tinggi air rob ini merendam kaki kita, itu artinya derajat kita sedang diangkat seperti para wali. Berdo’alah! Jangan kisruh! Kisruh itu merusak akhlak, sedangkan berdo’a bagi kaum yang terdzalimi pasti dikabulkan!”

Bajindul! Tragis sekali! Mereka yang merusak tata ruang, mereka yang memberi izin industri, mereka yang membiarkan tanah ini ambles, justru alam yang disalahkan! Sementara, mereka yang ngerti dalil, malah mengkambing-hitamkan Tuhannya.

Lucunya, kami pun nerimo. Kami juga mengamini do’a yang dilantunkan lewat pengeras suara.  Dan kemudian langsung dilanjutkan dengan pengumuman proyek baru. Proyek jumbo senilai lima belas triliun yang digendong dari pusat bernama Tanggul Laut Raksasa.

ADEGAN 5: BUTO BETON

Mendengar namanya saja, aku sudah merinding. Bayangkan, segede apa proyek itu sampai dinamai raksasa. Bukankah raksasa itu Buto? Buto yang biasa digambarkan sebagai makhluk besar yang berwatak jahat. Matanya mlolo, melihat semuanya sebagai mangsa, taring tajamnya siap merobek dan mengunyah apa saja.

Pemerintah tak terima dengan analogi dan pernyataanku itu, mereka langsung mengklarifikasi. Buto ini digambarkan seperti Kumbakarna. Raksasa perkasa yang dipasang di garis pantai untuk menjaga rakyat dari serangan rob. Seolah-olah Buto ini adalah pahlawan berjiwa patriotis.

Padahal, namanya Buto tetaplah Buto! Dia dimainkan pada babak Pathet Sanga. Babak tengah malam dalam wayang, di mana huru-hara dimulai! Dan di babak inilah, aku, Semar Bodronoyo, pamong yang menanam akar kehidupan di bumi pesisir ini tidak tinggal diam. Semar melawan!

“He’eh… Hai, Buto! Aku adalah Semar! Aku sudah menyatu dengan angin, lumpur, dan air pesisir ini jauh sebelum ambisi busukmu lahir. Keberadaanmu akan semakin memperburuk keadaan kami. Hentikan keserakahanmu itu!”

Tetapi, tubuh Buto itu terlalu besar! Seberapa kerasnya aku melawan, Buto beton itu tetap berdiri serakah. Tangannya mencengkeram paru-paru hijauku. Kakinya menginjak punggung pantaiku. Taringnya nuncep persis di jantung bumiku yang mulai renta.

Sementara anak-anakku, Gareng, Petruk, Bagong membiarkanku berjuang sendiri. Mereka memilih nerimo. Gareng yang pincang dan kero matanya malah silau melihat gaji UMR-nya. Petruk hanya sibuk mencium dan memuja asap pabrik dengan hidung panjangnya. Dan Bagong dengan mulut besarnya cuma bisa ngedumel di balik seragam satpamnya.

Nafasku terengah-engah. Aku tidak berdaya menghadapi beton serakah itu. Tubuh bungkukku akhirnya ambruk dan terkapar ke dalam lumpur rob yang semakin pekat. Tak ada yang membantuku.

Buto yang menang itu pun kini berdiri menguasai sebagian tanah kita. Dan kabarnya akan tumbuh semakin besar di sepanjang pulau Jawa dengan anggaran miliaran dolar. Semoga saja ini hanya omon-omon.

He’eh… Sementara, tubuhku yang mulai rapuh ini sudah tidak berdaya melawan kedigdayaan kompeni berseragam dan Buto itu. Maka di sisa umurku yang sudah bau tanah ini, aku memilih tetap tinggal bersama laut dan sampan ini. Bukan untuk menyerah. Aku ingin mencuci tanganku yang kotor ini dengan air asin. Tangan seorang pamong yang gagal momong.

Tiap Subuh, aku kayuh sampan ini. Membawa beberapa batang bakau. Aku titipkan do’a pada tiap batang bakau itu, lalu satu per satu aku tancapkan ke dalam laut yang dalam.

“Ya, Rob! Berkahilah kami. Bakau ini kupersembahkan untukmu rob.”

Aku berharap batang-batang bakau ini akan menjelma sebagai Prabu Rama. Kesatria yang akan menundukkan Buto Kumbakarna buatan pemerintah itu. Berhasil merebut kehidupan di tanah pesisir ini.

Sampai suatu hari, di ujung pesisir Bedono yang sudah sunyi, langkah sampanku terhenti. Di tengah kepungan air laut yang luas, di sebuah sudut, aku melihatnya.

Mak Jah.

SENYUM SEMAR MENGEMBANG. LAMPU SPOT MENYOROT TUBUH MAK JAH.

Perempuan tua yang jiwanya sekeras batu karang. Di saat semua orang angkat kaki dari Bedono, Mak Jah menolak tunduk! Dia memilih bertahan di rumahnya yang dikepung ombak.

Tangan tuanya yang keriput itu tidak pernah berhenti menanam bakau! Saban hari dia berkubang dengan lumpur, menyusun ranting, merawat bibit-bibit hijau demi menghalau hantaman abrasi yang ingin merubuhkan rumahnya. Menjadi benteng terakhir yang berdiri di Pesisir Sayung.

MENDEKATI MAK JAH.

Saat melihat Mak Jah, aku menyadari, perjuangan bukan lagi soal menang atau kalah. Ini soal merawat sisa-sisa martabat kita sebagai manusia.

Pabrik dan tanggul beton lima belas triliun itu mungkin akan hancur dan runtuh digerus zaman. Tapi akar-akar bakau yang ditanam oleh tangan-tangan berdosa seperti tanganku, dan tangan-tangan suci seperti tangan Mak Jah ini akan terus menggenggam bumi. Menjaga ingatan, bahwa di tanah yang tenggelam ini, pernah ada peradaban yang berjuang hingga napas terakhir.

MENGGANDENG TANGAN MAK JAH YANG PENUH LUMPUR. MENUNTUNNYA BERJALAN KE TENGAH.

“He’eh… Maka, kalau kalian yang mendengar ceritaku malam ini, jangan ulangi kesalahan kami. Jangan biarkan ketamakan merampas masa depan kalian. Karena kalau tanah ini hilang, bukan cuma rumah yang lenyap. Akar kita putus. Dan tak ada lagi tempat untuk pulang.”

MENARIK SATU PENONTON KE PANGGUNG. MEMBERIKAN BIBIT BAKAU KEPADANYA.

“Meskipun setelah ini lampu padam, tapi jangan biarkan tanah ini semakin tenggelam.”

SEMAR KEMBALI BERBALIK, MENGGANDENG TANGAN MAK JAH. LAMPU PANGGUNG PERLAHAN PADAM. SELESAI.

Demak, 11 Juni 2026

Agung Widodo

DISKLAIMER:

Seluruh bentuk pengolahan, penyesuaian alur, dialog, dan adegan di naskah ini dilakukan untuk mendukung kebutuhan teknis serta artistik pementasan.

Dilarang keras menggunakan, menyalin, menggandakan, atau mementaskan naskah ini tanpa izin tertulis dari penulis. (AW)


[1] Suara khas Semar. Suara ini terdapat di beberapa bagian di adegan berikutnya.

[2] Program Intensifikasi Tambak (INTAM) diterapkan di 11 provinsi termasuk Jawa Tengah dan masuk ke Rencana Pembangunan Lima Tahun pada 1984-1989, saat inilah memicu konversi mangrove dan sawah di Sayung, Demak dengan gairah mendapatkan uang tunai secara cepat, tetapi berujung pada kemunculan rob akibat kerusakan ekologis. Lihat: https://megashift.fisipol.ugm.ac.id/2024/08/19/ekologi-politik-banjir-rob-di-kecamatan-sayung-kabupaten-demak-provinsi-jawa-tengah/

Scroll to Top